Please ENJOY

Minggu, 01 Februari 2015

Pesona Musik SAUNG ANGKLUNG UDJO





Sepertinya bukanlah hal yang istimewa apabila saya mengisi week end dengan hal yang tidak seperti biasanya saya lakukan, menghabiskan waktu untuk sekedar berefreshing adalah sesuatu yang lumrah biasa orang lakukan, terlebih week end adalah hari off kerja, jadi sayang apabila dilewati begitu saja tanpa adanya aktifitas penyegeran setelah seminggu sibuk berkerja, namun yang menjadi istimewa adalah rencana untuk mengunjungi pertunjukan seni tradisional di Saung Angklung Udjo di Jalan Padasuka.

Sebenarnya Saung Angklung Udjo bukanlah hal yang baru bagi saya secara pribadi, karena sedari kecil saya sudah terbiasa dengan tempat tujuan wisata seni budaya ini, namun seiring berjalannya waktu dan kesibukan saya bekerja, membuat saya jarang berkunjung ke tempat ini, Saung Angklung Udjo mengalami perkembangan yang cepat, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kecil, sekarang Saung Angklung Udjo jauh  lebih maju, tempat pentas yang tertata rapi, toko kerajinan khas daerah Padasuka yang lumayan kumplit, adanya loket tempat penjualan ticket, hingga keberadaan toilet di luar dan di dalam tempat pertunjukan, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah keberhasilan pihak management Saung Angklung Udjo dalam meregenerasi para senimannya.

 

Tepat pkl: 9:30 pagi saya sudah ada di lokasi pertunjukan, sengaja hari itu saya datang pagi karena akan ada pertunjukan angklung dimulai pukul 10:00, bersamaan dengan kedatangan saya, datang pula dua bis dari rombongan yang berbeda, mereka datang dibawa oleh agen pariwisata.

Pertunjukan dimulai dengan kesederhanaan yang bersahaja, pertunjukan demontrasi wayang golek sebagai pembuka, pertunjukan ini hanya sebagai pengenalan akan seni wayang golek yang saat ini sudah jarang sekali dipentaskan, meskipun durasi pertunjukan ini tidak selama pertunjukan wayang golek yang sesungguhnya, yang menghabiskan waktu hingga tujuh jam, dan jalan cerita Mahabarata yang “runut”, pertunjukan  demontrasi wayang golek tidak lebih dari sekedar peragaan bagaimana sebuah wayang digerakan, namun tetap terselip sedikit pesan moral didalamnya.

Usai demontrasi wayang golek, disusul dengan kemunculan tiga penari cilik yang menarikan tari kuda lumping, lucu sekali mereka itu, masih kecil tapi sudah mempunyai kepercayaan diri yang full dan jiwa senin yang sudah terlihat melekat pada dirinya, gerakan tariannya sangat sederhana, namun justru dari kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik ketiga bocah penari itu, saya sangat terhibur dengan apa yang mereka tampilkan, diantara gerakan tarian mereka jelas terlihat keluguan dari ketiga bocah itu.... luar biasa.

Ketiga bocah berlalu, namun tidak begitu lama mereka muncul kembali, dengan membawa rombongan, mereka menggelar upacara adat “Helaran” , upacara yang biasa digelar sebagai rasa syukur atas karunia dan berkah serta kebahagiaan yang diperoleh, biasanya upacara Helaran digelar sebagai hiburan  untuk khitanan atau setelah mendapatkan hasil panen yang berlimpah.


Selain Helaran ditampilkan juga Tari Topeng Priangan, tarian ini sebenarnya diadaptasi dari Tari Topeng Cirebon, saat itu para penari menggunakan Topeng Klana, Topeng dengan watak paling gagah diatara kelima watak topeng.

Permaian angklung menjadi acara selanjutnya yang paling ditunggu penonton, dari mulai angklung orchestra atau sering juga disebut angklung toel, karena cara mainnya yang ditoel (dicolek), atau bermain angklung bersama. 

Menyimak satu demi satu pertunjukan yang digelar atau memetik pelajaran dari keberhasilan Saung Angklung Udjo dalam meregenerasi senimannya, juga kebertahanan seni tradisional yang mereka miliki diantara gempuran seni kontemporer atau seni ngePop yang banyak diminati generasai muda saat ini, Saung Angklung Udjo patut diapresiasi, itu semua pastilah berkat kegigihan para penggiat seni di dalamnya, juga karena angklung berimprovisasi dalam hal nada dari Pentatonis (da, mi, na, ti, la) menjadi Diatonis (do, re, mi, fa, so, la, si) hingga pada akhirnya angklung bisa masuk kedalam seni pertunjukan kontemporer dan bisa mengiringi berbagai jenis lagu apapun juga.

Saung Angklung Udjo akan terus bertahan selama para penggiat seni didalamnya terus berimprovisasi seiring dengan perkembangan jaman tanpa meninggalkan ciri khas yang selama ini indentik dan menjadi kekuatan dari Saung Angklung Udjo.

Lalu akan kemanakah nantinya anak-anak lucu dan kreatif yang sekarang ini menjadi seniman cilik di Saung Angklung Udjo, akankah mereka terus menggelar pertunjukan yang selama ini mereka lakukan hingga mereka dewasa? Ataukah kelak mereka akan membuka Saung Angkung Udjo yang lain di tempat yang berbeda ? ataukah kelak mereka akan meninggalkan semua aktifitas berkesenian dan menganggap pertunjukan hari ini sebagai permainan masa kecil yang nantinya akan mereka tinggalkan saat mereka dewasa?

Kesenian tradisional seperti Angklung akan tetap bertahan selama penggiatnya masih ada, dan mereka terus meregenerasi senimannya dengan berbagai inovasi dan improvisasi agar dapat selaras dengan perkembangan jaman.

Sepuluh tahun lagi atau duapuluh tahun lagi, apabila Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk berkunjung ke daerah Padasuka, semoga saya masih bisa melihat Saung Angklung Udjo yang tetap kokoh berdiri, dan semoga saya masih berkesempatan menyaksikan pagelaran angklung dari generasi selanjutnya.


0 komentar:

Posting Komentar