Please ENJOY

Minggu, 25 Agustus 2013

Mendaki Gunung Singa



 
Berpose di puncak Gunung Singa
Rencana menaiki Gunung Singa muncul mendadak ketika kami semua ngobrol bareng bersama teman-teman saat istirahat kerja, kami yang terbiasa menaklukan Gunung-gunung tinggi khususnya di Pulau jawa dan terbiasa keluar masuk hutan, mengganggap bahwa pendakian ke Gunung Singa adalah hal yang “cetek” hingga kami merasa tidak perlu melakukan persiapan yang berlebihan.

Gunung Singa terletak di daerah Soreang, berdampingan dengan Gunung Sadu, sebetulnya Gunung Singa tidak tepat disebut Gunung, karena ukurannya yang relatif kecil, Gunung Singa lebih tepat disebut bukit, itu sebabnya kami merasa bahawa mendaki Gunung Singa bukanlah hal yang luar biasa, namun dengan begitu kami tetap harus berhati-hati, karena Gunung Singa mempunyai tingkat kecuraman yang cukup berbahaya, bentuknya yang mirip dengan Piramida (kerucut) merupakan tantangan tersendiri bagi kami.
Persiapan mendaki, di Mess yang kami anggap Markas
Persiapan seadanya telah selesai kami lakukan, di Mess yang kami anggap markas untuk membuat sebuah perencanaan pendakian, kami berbincang sebentar sambil menunggu teman-teman yang belum datang, pagi sekali sekitar pkl 8, kami sudah siap meninggalkan Mess tempat teman-teman tinggal.


Tidak ada peralatan berat yang kami bawa, seperti Tenda, tikar, alat untuk memasak, lentera dll, karena niatan kami hanya untuk mendaki, sesampai di puncak kami akan langsung turun kembali.
Bersama teman, sahabat dan adik kami Didin
Perjalanan yang hanya mengandalkan jalan kaki menuju Gunung Singa lumayan melelahkan, namun kami disuguhi dengan pemandangan khas pedesaan yang masih asri, ditambah pesawahan yang terhampar luas dan kebun-kebun palawija milik penduduk setempat, cukup memanjakan mata.
Istirahat pertama: di warung ini kami mempersiapkan segala perbekalan

Istirahat kedua: di gubung lapuk ini kami berteduh
Baru saja setengah perjalanan, kami menemukan warung yang lumayan kumplit, disana kami membeli sedikit makanan dan air mineral untuk perbekalan, istirahat hanya dilakukan 10 menit lalu kami lanjutkan perjalanan, dan selama menuju lokasi Gunung Singa, kami melakukan istirahat selama 2 kali, terakhir kami istirahat disebuah Gubuk lapuk yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.
Di kaki Gunung Singa

Saya menengadahkan muka, memandang keatas setelah kami tiba di kaki gunung, hmmm... boleh juga gunung ini  didaki, lumayan curam meskipun gunungnya tidak sebesar gunung-gunung yang telah kami daki sebelumnya.
Salah satu lokasi di Gunung Singa

Gunung Singa, adalah gunung yang penuh dengan aura mistis, ada beberapa kelompok masyarakat yang rutin mendaki gunung ini hanya untuk sekedar melakukan ritual, saya sama sekali tidak tahu apa tujuan ritual yang mereka lakukan, yang jelas, jejak-jejak mereka bisa kami temukan berupa sesajen.
Salah satu jalan setapak yang kami lalui, diantar lorong bambu yang unik
Jalan yang cukup terjal dan menanjak

Jalan setapak dan terus-terusan menanjak ternyata cukup melelahkan juga, sesekali saya lihat teman-teman menghela napas panjang dan mengeluarkan botol air mineralnya, kami juga harus melewati belukar, dan lorong yang unik yang terbentuk dari rindangnya pohon bambu, lorong dari pohon bambu itu bentuknya sangat unik hingga kami sempatkan untuk berfoto, namun kami tetap saja waspada, karena diantara rindangnya pohon bambu biasanya banyak terdapat ular pucuk (ular hijau) yang cukup berbisa.
Pemandangan yang menakjubkan

Setelah pendakian yang melelahkan, akhirnya sampai juga kami ke puncak Gunung Singa, wowww.. sangat menakjubkan pemandangan di puncak gunung, kami bisa melihat hamparan pesawahan, rumah-rumah kecil di perkampungan sekitar, dan kearah utara, kamipun bisa melihat Kota Bandung yang megah, sayang pemandangan itu kami dapatkan di siang hari. Seandainya saja kami membawa tenda dan bermalam, mungkin kamipun bisa melihat lampu-lampu bertebaran di setiap kawasan yang kami lihat.
Cheer Up !!! kami sampai

Pemandangan di atas gunung sangat indah dan menakjubkan, hingga teman-teman bergantian mencoba melihatnya menggunakan Kecker/teropong yang sengaja saya bawa dari rumah.
Di antara padang rumput, di puncak Gunung Singa

Tepat pkl 12 siang, matahari terasa terik sekali menyengat, namun hawa sejuk pegunungan mampu menghalau rasa panas yang kami rasakan, dan diatas puncak itulah saya baru sadar mengapa gunung ini dinamakan Gunung Singa, ternyata di puncak gunung kami bisa melihat batu besar yang bentuknya mirip sekali dengan kepala Singa. Sesekali saya melihat sekelompok monyet betengger di atas batu yang mirip kepala singa itu. Sungguh indah pemandangan saat itu, sebuah mahakarya Sangat Pencipta yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Saya, Yadi, dan Jajang... makan siang bersama

Lelah yang kami rasakan menuntun kami untuk membuka sedikit perbekalan yang kami bawa, diatas puncak gunung yang bentuknya kerucut, diatara perpaduan teriknya matahari dan sejuknya hawa pegunungan, diatas padang rumput kami makan siang bersama, diiringi pentikan dari 2 buah gitar yang sengaja kami bawa, benar-benar sebuah unforgetable moment. Kami merasa dekat satu sama lain saat itu, “bila ada istilah cinta sehidup semati, bagi kami persahabatan kami bersama teman-teman adalah dari hidup sampai mati”. 
Makan bersama, nyanyi bersama, berkumpul, bersenda gurau... We're happy

Kami mengatur rencana, melakukan perjalan yang melelahkan, mendaki gunung yang curam rasanya setimpal dengan pemandangan yang kami dapatkan disana, perjalanan dan kebersamaan kami adalah sebuah nilai yang tak ternilai. 
We're One

Idan, Aang, Ali, Didin, Jajang, wahdiat, Yadi, Irman, dan sahabat-sahabat lain yang ikut mendaki Gunung Singa, tulisan ini saya dedikasikan untuk kalian, sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah manis bersama.

2 komentar:

  1. mantaaap Gunung Singa memang keren walaupun ketingginya tidak terlalu tinggi

    BalasHapus