Please ENJOY

Selasa, 03 September 2013

Jalan Berliku Menuju Curug Malela





Minggu, 1 September 2013, adalah hari yang telah kami tentukan, tepat pkl 7:00 kami semua (Deddi, Saya, Rere, B'Mar, Retno dan P' Tommy) sudah berkumpul di kantor Jl. Braga no 5, Bandung, menghabiskan waktu setengah jam untuk sarapan nasi kuning, lalu... jusssss... mobil melaju kencang di jalan yang cukup lengang, menuju Kampung  Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, sebuah Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur. Tujuan kami adalah menuju Curug Malela, air terjun yang lumayan fenomenal, hingga masyarakat sekitar menyebutnya Little Niagara.




Perjalanan dari Kota Bandung sangat panjang dan melelahkan, agar lebih cepat kami menggunakan akses jalan tol, masuk dari pintu tol Pasteur dan keluar melalui pintu tol Padalarang, lalu berbalik arah, dan mulai memasuki kawasan Batujajar, lalu menuju kecamatan Cihampelas, hingga melewati Cililin, kota kecamatan SindangKerta, Bunijaya, Gununghalu dan perkebunan teh Rongga, Seluruh akses jalan yang kami lalui tidak ada satupun yang bagus, konturnya naik turun dan berkelok,  jalanannya sangat rusak parah, berlubang, dan di kawasan tertentu terutama saat kami melewati pasar tradisional kami dihadang kemacetan, karena banyak angkot yang ngetem sembarangan. Entah apa yang dilakukan Bupati Bandung Barat, yang jelas saat kami melalui jalan itu, tidak satupun terlihat adanya pembangunan yang berarti. Hibernasi yang dilakukan Bupati dan Wakilnya terlalu lama, hingga matanya tidak mampu melihat lagi betapa parahnya akses jalan menuju Curug Malela yang kami lalui.



Meskipun jarak antara Kota Bandung menuju Curug Malela cukup jauh, tetapi kami sama sekali tidak mengalami kesulitan, karena dari Kabupaten Cililin kami dapat dengan mudah menemui petunjuk arah menuju lokasi curug. Tepat tengah hari kami sudah sampai di kawasan Kabupaten Gunung Halu, kami berhenti beberapa menit untuk membeli sedikit makanan sebagai bahan cemilan di perjalanan, meskipun yang kami dapatkan hanya pisang, telur asin dan beberapa lontong, tapi lumayanlah untuk sekedar pengganjal perut lapar yang dari tadi sudah terombang-ambiang selama perjalanan.



Tepat di kawasan perkebunan teh Rongga, kami berhenti karena ada beberapa tukang ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar kami menuju Curug Malela, kami terlibat adu tawar harga, tukang ojek itu menawarkann jasa mengantar kami dengan biaya yang sangat mahal, kami dipatok Rp. 100,000 / pp / orang.... wowwww... mahal sekali, tukang ojek itu menggunakan “prinsip aji mumpung”, dengan alasan akses jalan menuju lokasi sangat rusak dan sulit untuk dilalui kendaraan roda empat yang kami pakai. Karena tawar menawar harga yang kami lakukan tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, akhirnya kamipun nekat melanjutkan perjalanan menanjak sepanjang 2 km kearah menuju Curug Malela, setelah melewati jalanan becek dan berlubang, kami sampai di pangkalan ojek yang ke dua, di kawasan ini kami benar-benar menyerah  untuk mengganti kendaraan roda empat yang kami pakai dan menggunakan jasa ojek, karena jalanan selanjutnya sungguh sangat parah, jalanan yang masih berbentuk  tanah yang becek, licin, berlubang dan kurang lebar jika kami menggunakan kendaraan roda empat. Kali ini harga yang dipatok tukang ojek Rp. 50,000 / pp / orang.




Ok lah, kami setuju dengan harga yang mereka tawarkan karena memang sesuai dengan akses jalan yang kami lalui, dari pangkalan ojek ke arah pintu menuju Curug Malela sangat jauh, sekitar 7 km, selama perjalanan kami benar-benar merasa  seperti sedang mengikuti Off Road, turun naik, melewati jalan setapak, hingga beberapa kali kami harus menarik napas panjang saat tukang ojek yang membawa kami berpapasan dengan pengendara motor lain di jalan yang sempit, mereka sama sekali tidak mengurangi kecepatannya, setelah sekilan lama tubuh kami terombang ambing, barulah ojek yang kami tumpangi sampai di depan pintu menuju kawasan Curug Malela, kami berhenti tepat di depan warung, di tempat itu sama sekali tidak kami temukan pos untuk membeli ticket masuk, hingga kamipun tidak dipungut biaya untuk membeli ticket masuk menuju Curug Malela.




Di pintu menuju arah Curug Malela ternyata kamipun harus terus melanjutkan perjalanan yang sangat melelahkan, kali ini kami harus rela berjalan kaki sepanjang -/+ 2 km, jalanannya menurun sangat tajam, kami harus melewati hutan, pesawahan, dari mulai jalanan yang terbuat dari batu, tanah, hingga meniti tangga yang jumlahnya lebih dari 200 anak tangga,  rasa penasaran kami terhadap curug yang sudah terlihat dari kejauhan mengalahkan rasa lelah kami, hingga tak terasa kami berjalan terus, dan akhirnya sampailah di lokasi yang kami tuju.




Curug Malela sungguh indah dan menakjubkan, suara gemuruhnya sudah terdengar dari kejauhan, dengan ketinggian sekitar 60-70 meter, airnya jatuh dari atas membentuk gordeng yang sangat lebar hingga mencapai 50 meter.




Di bawah curug terhampar batu-batu besar yang biasa digunakan para pengunjung untuk beristirahat sambil menikmati indahnya curug, dan berfoto bersama. Curug Malela selain terkenal dengan keindahannya juga terkenal dengan cerita mistisnya, nama Malela sendiri menurut penduduk sekitar diambil dari tokon masyarakat setempat yaitu Eyang Tadjimalela, seorang ahli silat pada jaman dahulu, penduduk sekitarpun menyarankan untuk tidak berkunjung ke Curug Malela di hari Selasa dan Jum’at, dengan alasan yang sampai saat ini belum kami ketahui.



Terlepas dari cerita legenda mengenai Eyang Tadjimalela dan cerita mistis di dalamnya, Curug Malela adalah curug yang sangat indah dan menakjubkan, meskipun akses jalan menuju curug tidaklah bagus dengan infrastruktur yang belum tersentuh tangan pemerintah, Curug Malela adalah curug yang layak direkomendasikan untuk dikunjungi terutama bagi mereka yang menyukai petualangan alam.
Dari kiri ke kanan (Dedi, Saya, Rere, B'Mar, Retno, P'Tommy)

4 komentar:

  1. Nice...i've been there too, with both my kids
    Kok gak diceritakan perjalan pulangnya hahahaha,,, apakah menaiki tangga pulang lebih asyik daripada saat menuruninya?

    Harus ditambahkan pemandangan curug malela yang dari kejauhan, dari arah 1 km .. keren juga pic nya.
    plus kontur jalan yang menuju kesana pake ojeg.. yang aduhaimembuat perut terkocok ria...

    i love wisata alam too.. dan cita-cita harus bisa mengunnjugi semua wisata alam di Indonesia, baik yang terkenal maupun yang belum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha...ada yg ngerasa senasib sepenanggungan!

      Hapus
  2. ZS.... ternyata perjalanan pulang jauh lebih melelahkan, dari curug kita harus terus jalan kaki menanjak ampe gempor nech paha, tapi lebih asyikkk pas pulangnya karena jauh lebih menantang, lagian kalau kita tujuannya main untuk berpetualang alam memang harus cape karena kalau gak capek yah gak rame.

    Sayangnya aku hanya bawa kamera pocket bukan yang profesional jadi kalau ngambil gambar dijarak yang jauh, keindahan curugnya malah gak jelas

    IDS.... cobainlah kunjungi curug malela, lumayan loh buat ngerenggangin otot

    BalasHapus
  3. Betul sekali....ke curug malela cape lahir dan batin. Curug nya indah dan menakjubkan.

    BalasHapus