Please ENJOY

Rabu, 30 September 2015

Menapaki Jejak BOSSCHA






Teropong Zeiss


Seorang brillian yang memiliki dedikasi, integrasi serta kepribadian yang kuat. Datang ke Indonesia pada tahun 1887 berhasil mengelola dan mengembangkan Perkebunan Teh Malabar – Pangalengan pada tahun 1896-1928.
Dikenal juga melalui sumbangsih serta peranan atas karya-karya antara lain:
-Technische Hogeschool, saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung
-societeit Concordia,  saat ini dikenal sebagai Gedung Merdeka Bandung, tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika
-Observatorium Boscha, gedung peneropong bintang yang memiliki lensa terbesar di dunia saat itu (1923-1926)
-Dan beberapa karya-karya besar lainnya.
Peristirahatannya yang terakhir disini adalah tempat beliau bertetirah disela-sela kesibukannya sehari-hari.

Itulah sekelumit tulisan yang sempat saya baca, tertulis diatas sebuah tugu kecil, mungkin bisa juga disebut prasasti, terletak tepat di depan makan Bosscha, diantara bunga-bunga dalam taman kecil yang tertata rapih dan terlihat resik.

Sebenarnya sudah lama sekali saya mendengar nama Bosscha yang untuk masyarakat parahiyangan sudah tidak asing lagi, Bosscha sangat terkenal karena sumbangsihnya terhadap masyarakat Jawa Barat yang hingga kini masih bisa kita rasakan manfaatnya. 

Penasaran dengan salah satu peninggalannya yaitu Observatorium, sayapun menyempatkan diri mengunjungi Observatorium tsb, lokasinya tidak begitu jauh dari Bandung, dan untuk mencarinyapun sangat mudah, karena masyarakat sekitar tahu persis lokasi yang akan kami tuju. Saat itu hari Sabtu 22 Agustus 2015, kami merencanakan pergi ke Observatorium Bosscha di pagi hari, tujuannya agar tidak terlalu panas dan masih punya banyak kesempatan apabila setelahnya kami ingin pergi ke tempat lain.

Setelah sampai tujuan dan membeli ticket masuk Rp. 15,000 kamipun berkesempatan masuk kedalam semacam kubah besar tempat dimana teropong Zeiss berada, sebuah teropong yang dulu pernah menjadi teropong terbesar di dunia pada masanya. Meskipun ada seorang pemandu yang menerangkan tentang asal usul teropong Zeiss dan cara mengoperasikannya, namun kami tidak berkesempatan untuk menggunakan teropong tsb, karena teropong hanya bisa digunakan pada malam hari, dan pengoperasiannya tidak terbuka untuk umum, teropong hanya digunakan untuk kepentingan pendidikan atau sebuah penelitian, terutama yang dilakukan oleh para mahasiswa yang berasal dari ITB, karena Observatorium Bosscha memang milik ITB.  

Tapi sedikitpun kami tidak merasa kecewa, paling tidak kami pernah melihat teropong besar, mendengarkan cara pengoperasian dan kegunaannya, dan tahu siapa yang pertama kali mencetuskan pengadaan teropong bintang yang sengaja didatangkan dari Jerman. Observatorium Bosscha satu-satunya di Indonesia, jadi wajar bila kami merasa bangga karena pernah mengunjunginya, apalagi lokasinya di daerah Lembang tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami.

Makam BOSSCHA

Bicara mengenai Bosscha rasanya belumlah afdol apabila kita tidak mengunjungi makamnya, maka satu bulan setelah kunjungan kami ke Observatorium Bosscha di Lembang, kamipun menyempatkan diri untuk mengunjungi makamnya di Perkebunan Teh Malabar di Pangalengan, sebuah makan yang berada di antara perkebunan teh yang sejuk dan indah, sebuah makam yang dikelilingi oleh resiknya taman yang tertata dan terawat dengan baik, sayapun betah berlama-lama berada di pemakaman itu.

Perkebunan Teh Malabar pertama kali dibuka sekitar tahun 1890an dan berkembang pesat setelan Bosscha bekerja disana sebagai administratur perkebunan pada tahun 1896. Dan pada tahun-tahun berikutnya seiring dengan perkembangan perkebunan yang pesat, Bosscha pun mendirikan 2 pabrik pengolahan teh disana, hingga akhirnya Bosscha menjadi raja teh di daerah priangan.

Namun kecelakaan terjadi, ketika kuda yang ditumpanginya terjerembab dan jatuh, Bosscha terluka dan lukanya terinpeksi kuman tetanus, hingga akhirnya Bosscha meninggal karena penyakit tetanus di usia 63 tahun, dan dimakamkan di tengah-tengah perkebunan teh, sesuai amanatnya
.
Salah satu view Perkebunan Teh Malabar

Perkebunan Teh Malabar selain sebagai perkebunan yang hasilnya untuk di ekspor dan konsumsi lokal, juga dipakai sebagai tempat wisata, karena keindahan alamnya dengan hawa sejuk khas pegunungan, disana terdapat bangunan-bangunan tempo dulu yang masih terjaga dan sekarang digunakan sebagai villa-villa yang bisa kita sewa.
 
Untuk berwisata memasuki kebun tempat pembibitan teh dan makam Bosscha kita hanya dipungut biaya Rp. 5,000,- sebagai ticket masuk, biaya yang sangat murah. 

Teawalk... salah satu aktifitas yang bisa kita lakukan di Perkebunan Teh Malabar

Apabila kita merasa jenuh dengan suasana perkotaan, tidak ada salahnya kita menyempatkan diri untuk berwisata murah meriah ke Perkebunan Teh Malabar yang luasnya 2,022 hektar, sebuah area yang cukup luas untuk kita jelajahi, sambil menghirup udara segar, jauh dari asap kendaraan dan bisingnya suasana perkotaan.

0 komentar:

Posting Komentar