Please ENJOY

Sabtu, 07 November 2015

Hidden Paradise itu bernama SANGHYANG HEULEUT


Sanghyang Heuleut, Syurga tersembunyi

Secara rutin terus-terusan me-recharge pikiran agar fresh kembali setelah sekian lama bergelut dengan pekerjaan kantor menjadi keharusan buat saya, meskipun tidak untuk pergi jauh dan tidak setiap weekend saya lakukan, banyak cara agar pikiran kita terhindar dari kejenuhan, selain rutin berolah raga, cara lain yang murah meriah dan sering saya lakukan adalah pergi menghindar dari keramaian kota, menikmati alam pedesaan, melihat bagaimana masyarakat desa hidup bersahaja selaras dengan lingkungannya atau naik gunung, memasuki hutan bertadabur dengan alam.

Sudah dua minggu kami merencanakan pergi ke tempat ini, dan akhirnya apa yang kami rencanakan terlaksana juga, kali ini perjalanan kami pergi ke arah barat kota Bandung, terus keluar dari kota melewati daerah Cimahi yang mulai ramai dan maju, hingga sampai di Padalarang, kami ambil jalur kiri, jalur ke arah Puncak, melewati Citatah, Raja Mandala, hingga sampai di daerah Cipatat, dan akhirnya kami belok kiri memasuki area PLTA Saguling, tujuan adventure kami kali ini... “jiahhhh pake istilah adventure,... biar kerenan dikit”... SANGHYANG HEULEUT.

Pipa Air untuk PLTA Saguling
Kami pergi dengan rombongan kecil, jumlah kami bertujuh,  menggunakan empat sepeda motor, sepanjang jalan yang kami lalui, kami tidak mendapatkan kendala apapun, meskipun jalanan cukup padat tapi motor yang kami tumpangi cukup lancar melaju diatara kendaraan lain, hingga akhirnya kami sampai tujuan dengan selamat, diawali dengan memasuki kawasan PLTA Saguling, motor terus melaju melewati Power House PLTA lalu bertemu dengan satpam penjaga portal, kita cuma bilang hendak ke Sanghyang Heleut dan diapun menunjukan arah jalan yang harus kita lalui, terus melaui jalan beraspal hingga kita akan bertemu dengan tikungan, kita lalui tikungan yang kekanan hingga mencapai kantor PLTA, sebelumnya apabila ada pengunjung yang hendak pergi ke Sanghyang Heuleut mereka biasa memarkir kendaraannya di kantor PLTA, tapi saat ini ada aturan dimana orang luar selain karyawan PLTA dilarang memasuki halaman kantor PLTA dan memarkir kendaraannya disana. Tetapi jangan khawatir, dari kantor PLTA kita terus menanjak belok kanan, disana akan kita temui warung yang menjual beberapa makanan dan minuman, dan disamping warung itulah kita parkirkan kendaraan kita, tiket parkirnya tidak terlalu mahal, untuk kendaraan roda dua cukup membayar Rp. 2,000 hingga Rp. 5,000, dan untuk kendaraan roda empat membayar Rp. 5,000 hingga Rp. 10,000,-

Sampai tujuan ternyata ada beberapa rombongan lain yang juga hendak pergi kesana, mereka terlihat lebih terkordinir, datang menggunakan beberapa mobil elf sewaan dan berpakaian seragam kaos hitam, selain rombongan itu, kami juga melihat beberapa rombongan lainnya dengan jumlah yang lebih kecil, usia mereka masih muda, mungkin para mahasiswa gaul yang mencintai alam.

Dari tempat kami memarkirkan kendaraan menuju Sanghyang Heuleut ternyata kami harus jalan kaki melewati pipa air ukuran besar yang berfungsi untuk mengalirkan air deras untuk kepentingan PLTA, lalu naik keatas melalui tangga besi, dan masuk kawasan hutan yang sangat  asri.

Bagi para pemula yang baru pertama kali mengunjungi Sanghyang Heuleut jalan yang harus dilalui cukuplah rumit, hingga harus menggunakan pemandu dari warga setempat, charges yang mereka kenakan Rp. 10,000,- per orang. Biaya yang menurut kami sangat murah karena untuk memasuki kawasan Sanghyang Heuleut tidaklah dipungut biaya seperserpun alias gratis, jadi kami hanya membayar pemandu saja, dan tentu saja itu sangat menguntungkan karena kami tidak akan tersesat di hutan, maklum di tengah hutan yang kami lalui sama sekali tidak ada arah petunjuk yang bisa kami pakai untuk menuju Sanghyang Heuleut, jadi menggunakan jasa pemandu merupakan sebuah keharusan.

Hutan hijau di Kawasan Sanghyang Heuleut
Sepanjang jalan di kawasan hutan yang kami lalui, kita akan disuguhkan pemandangan hutan yang masih alami dan bersih, tidak kami temukan sampah plastik bekas minuman air mineral atau sampah lainnya, mungkin karena mayoritas para pengunjung adalah para pencinta alam yang sudah mulai sadar akan pentingnya kebersihan dan kelestarian alam, hingga mereka sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan, disanapun kami sempat beberapa kali diingatkan oleh pengunjung lain untuk tidak membuang sampah di tengah hutan, dan hutan hijau yang kami lalui dibelah oleh sungai Shanghyang Poek yang airnya sangat dangkal dan arus air yang pelan, sungai dengan hamparan batu-batu besar dengan berbagai bentuk yang unik, sungai bersih yang mengalir hingga mencapai Sanghyang Heuleut.

Sungai Sanghyang Poek
Sepanjang perjalanan menuju hutan, kami sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat sambil mencari spot bagus untuk berfoto ria, dan karena di tengah hutan banyak sekali spot yang bagus hingga kamipun lebih dari lima kali berhenti, dari mulai berfoto diantara pohon-pohon besar, hamparan batu cadas dengan bentuk yang unik, hingga di tengah-tengah sungai dangkal dengan air yang bening, tetapi tempat paforit para pengunjung yang hendak berfoto selama dalam perjalanan adalah Gua Sanghyang Poek, sebuah gua kecil yang digenangi air sungai.

Sanghyang Heuleut adalah syurga tersembunyi, tempat yang saat ini sangat ngehitsss dan fenomenal, anak-anak muda yang gaul berlomba untuk mencapai tempat ini, karena tempat ini menjadi topik pembicaraan yang hangat di Sosial Media terutama Instagram, tempat ini juga menjadi incaran para pencinta kebudayaan sunda, karena Sanghyang Heuleut satu kawasan dan satu deretan dengan Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro tempat surutnya Danau Purba yang dulu pernah menggenangi kota Bandung.

Sebagian rombongan kami

Kami berjalan di kawasan hutan yang cukup datar, meskipun sesekali kami harus menaiki beberapa batu besar, kami berjalan ± 1.5 jam hingga sampailah kami di Sanghyang Heuleut, sebuah Hidden Paradise tempat turunnya para bidadari untuk mandi.

Untuk dapat mencapai air di danau kecil Sanghyang Heuleut, kita harus memanjat batu-batu besar yang cukup licin hingga siapapun para pengunjung yang pergi kesana haruslah ekstra hati-hati, tetapi diatas batu besar itulah kita bisa menikmati keindahan sebuah Syurga Tersembunyi, diatas batu besar itulah para anak-anak gaul berlomba berfoto ria untuk nantinya mereka up load di Sosial Media, dan diatas batu besar itupula para pengunjung bernyali besar melompat bebas dari atas meluncur ke bawah memacu andrenalin, hingga cipratan air menjadi sensasi tersendiri, kitapun bisa berkemah disana.
 
Hamparan batu-batu dengan bentuk yang unik
Tips apabila hendak pergi ke Sanghyang Heuleut, jangan lupa untuk memakai sepatu yang biasa dipakai para pencinta alam saat hiking atau memakai sandal gunung, karena banyak sekali batu-batu licin yang harus dilalui dan patahan ranting-ranting tajam yang kita injak, pergilah saat pagi terutama di musim hujan karena biasanya menjelang sore hujan turun dan itu sangat menyulitkan karena batu-batu besar yang harus kita panjat akan terasa lebih licin, bawa minuman dan makanan ringan untuk cemilan. 

Sanghyang Heuleut akan tetap indah bagaikan Syurga di tengah hijaunya hutan, sebuah danau unik di dalam hutan yang terhalang gunung,  dan akan tetap indah selama kita dan pengunjung lainnya tidak merusaknya, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mencoretnya menggunakan cat semprot pada batu-batu besar dengan bentuk yang unik.

Spot yang bagus untuk berfoto

0 komentar:

Posting Komentar