Please ENJOY

Minggu, 15 Juli 2012

Kekerasan Terhadap Anak


Hari ini saya melihat di televisi ada sepasang suami istri muda yang kebingungan mencari anak balita satu-satunya  yang diculik oleh orang yang belum lama mereka kenal, hari ini saya membaca berita di Koran seorang anak diamankan oleh tetangganya dan dibawa oleh ketua RT setempat ke Rumah Sakit karena tubuhnya penuh luka dianiaya kedua orang tuanya, hari ini lamunan saya melayang ke masa kecil di tahun ‘86an saat saya menyaksikan teman saya Tonny merintih menahan pedih dari luka sayatan dikulitnya, tangannya diikat brogol, Sambil menahan tubuh dengan kedua lututnya Tonny meminta peniti yang mengait di celana jerry, “prakkkk” seketika itu juga brogol langsung terbuka, Tonny  juga contoh kasus betapa seorang anak rentan sekali mengalami kekerasa dari Orang tua, saudara, pengasuh, tetangga dan orang-orang terdekatnya yang jauh lebih tua.
 
Kekerasan fisik adalah agresi fisik diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa. Hal ini dapat berupa meninju, memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar, membuat memar, menarik telinga atau rambut, menusuk, membuat tersedak atau mengguncang seorang anak.

Banyak sekali contoh-contoh lain dari kekerasan terhadap anak, baik secara fisik, secara psikologi/penganiayaan emosional, pelecehan seksual, eksploitasi, penelantaran dan berbagai jenis penganiayaan lainnya yang terjadi di rumahnya sendiri, di sekolah, atau dilingkungan tempat anak bersosialisasi.

Kekerasan terhadap anak juga bisa berupa kegagalan, diantaranya Kegagalan orang tua dalam menyediakan kebutuhan yang memadai untuk berbagai keperluan termasuk kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau tempat tinggal yang layak, juga ada kegagalan-kegagalan lainnya seperti pemberian pendidikan yang tidak memadai, ataupun kegagalan medis saat orang tua tidak mampu membawa anaknya untuk mendapatkan pengobatan secara medis ketika si anak sakit.

Di beberapa daerah kekerasan terhadap anak seolah sudah membudaya dan dianggap lumrah, berdalih untuk mendisiplinkan anak, seringkali orang tua memberikan hukuman secara fisik ataupun hukuman secara psikis, hukuman tersebut seringkali menjadi penyebab kekerasan terhadap anak, dan dari berbagai jenis kekerasan yang terjadi, kekerasan psikis adalah kekerasan yang sukar untuk didefinisikan seperti mencaci, merendahkan ataupun membentak, mengkritik dengan berlebihan, memberikan label yang tidak semestinya, merusak barang kesayangannya, ataupun tuntutan yang melebihi kapasitas anak. Beberapa dampak akibat kekerasan psikis bisa berupa rasa minder pada anak, sulit beradaptasi atau sulit bersosialisasi, berkata-kata kasar, atau dendam kesumat akibat trauma yang berkepanjangan.

Ini cerita tentang seorang teman, sekitar tahun 2000 – 2001 dia memutuskan untuk menikah, karena dia merasa bahwa dia sudah siap (menurut ukuran dia) meskipun dia masih kuliah tapi dia juga sudah mempunyai pekerjaan, diawal-awal pernikahannya dia begitu bahagia, dan selalu memperlihatkan kebahagiaannya di depan saya maupun didepan teman-teman yang lainnya, lima tahun berlalu dari hasil perkawinannya dia dikaruniai dua orang anak, mulailah keluhan demi keluhan muncul saat kami bertemu, dan keluhan tersebut selalu saja yang sifatnya financial, hidupnya sudah tidak mapan lagi seperti dulu, mulailah petualangannya bersama keluarga kecil yang dia bina, berpindah dari satu kota ke kota lain, demi untuk mendapatkan pekerjaan, bisa dibayangkan betapa tidak nyaman hidup anak-anaknya, karena keikut sertaan anak-anak dengan orang tuanya yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal membuat anak kehilangan lingkungan sebelumnya tempat dia bermain, terputusnya komunikasi dengan teman-temannya, dan ketertinggalan pelajaran sekolah, disadari atau tidak hal ini juga merupakan kekerasan terhadap anak anak yaitu kekerasan ekonomi.

Kita sebagai orang dewasa sudah sewajarnya memberikan proteksi terhadap anak-anak dimanapun juga agar kasus yang sangat menghebohkan seperti kasusnya  Arie Hanggara yang meninggal di tahun 1984 disaat usianya baru 7 tahun tidak terulang lagi.

0 komentar:

Posting Komentar