Please ENJOY

Selasa, 15 Mei 2012

Pak Tua Pengasah Pisau

Suara menderit yang muncul karena gesekan dua benda keras sungguh membuat ngilu, beradunya pisau stainless campuran besi baja dengan gerinda sebagai pengasahnya terasa kurang nyaman dikuping, namun pak tua dengan asyik menyelesaikan tugasnya.

Detik demi detik seolah enggan aku lewatkan hanya untuk memperhatikan si pak tua, tapi sedikitpun si pak tua tak menghiraukan dan terus saja perhatiannya hanya terfokus pada satu sisi dari pisau yang diasahnya, “pasti bisa tajam” katanya.

Usia yang hampir mencapai delapan puluhan, bukanlah halangan baginya untuk terus berupaya menghidupi diri dengan profesi yang telah dia geluti hampir 40 tahun, “renta bukanlah halangan bagi bapak untuk keluar rumah mencari penghidupan” begitu jawabnya ketika aku menanyakan sejak kapan dia bekerja seperti ini. “bapak asli garut, tapi sudah mulai tinggal di bandung di tahun enam puluhan” lanjutnya lagi.


Kehidupan selalu berputar seperti roda pedati, kadang kita diatas dan dunia terasa begitu indah, segala sesuatu yang kita jalani terasa manis, namun terkadang kehidupanpun mengharuskan kita untuk berada dibawah dimana pandangan kita terhadap dunia begitu pekat, segala sesuatu yang kita jalani berbuah kegagalan dan terasa pahit, selalu saja ada dinamikanya, tapi mengapa roda kehidupan si bapak pengasah pisau tidak seperti roda pedati? Roda kehidupan bapak itu tidak mau berputar, berhenti seolah tidak ada rotasi, sudah lama kehidupan si bapak dibawah dan sampai sekarangpun masih tetap dibawah.

Nasib memang tidak mungkin berubah kalau kita tidak berusaha untuk merubahnya, namun bukankah apa yang dilakukan si bapak pengasah pisau juga adalah upayanya untuk merubah nasib?

Ternyata memang benar juga dengan apa yang aku yakini selama ini, pada saat kita berada dibawah, pada saat kita menghadapi berbagai macam kesulitan hidup, ada satu yang masih bisa kita andalkan untuk bertahan dan bangkit, kita bisa mengandalkan Skill yang kita miliki, karena hanya skill itulah yang bisa kita pakai untuk menyandarkan hidup kita. Si bapak pengasah pisau pastilah tidak mampu untuk bertahan dan bangkit dari kesulitan ekonomi yang menghimpitnya, karena dia hanya mempunyai kemauan tanpa adanya kemampuan, nasib baik memang tidak akan pernah berpihak pada orang-orang yang tidak mampu mengakurkan diri dengan perkembangan zaman, dan profesi sebagai pengasah pisau adalah profesi yang mudah sekali tergerus.

ini ketiga pisaunya sudah selesai diasah, satu pisaunya dua ribu rupiah, jadi total untuk tiga pisau enam ribu rupiah” kata si pak tua membuyarkan lamunanku.

1 komentar:

  1. gue yakin sibapak ditahun 70-80'an dulu pernah mengalami masa jaya sbg pengasah pisau! mungkin dimasa jayanya beliau tidak bisa menata hidupnya dengan baik hingga seperti saat ini!
    begitu pula dgn kita yg sekarang sedang masa jaya2nya jgn sampai kita salah menata hidup kita sehingga dipandang dgn rasa iba oleh generasi berikutnya sama seperti nasib bapak pengasah pisau ini!

    BalasHapus